Wednesday, December 5, 2018

The Greatest Muslim │Haji Umar Mita (1892 – 1976) │ Sang Samurai Pertama


Masjid Kobe - Masjid tertua di Jepang
Siapakah Haji Umar Mita? Mengapa ia menjadi sosok yang luar biasa di dunia Islam padahal sebagian besar muslim di luar sana tidak mengenalnya melainkan hanya di negeri Jepang.

Lahir pada tanggal 19 Desember 1892, Ryoichi Mita berasal dari kalangan bangsawan Jepang tepatnya dari golongan prajurit kelas atas yang biasa dikenal sebagai Samurai. Keluarganya merupakan pemeluk Budha. Semasa kecil ia dan keluarganya tinggal di wilayah Yamaguchi, sebuah daerah di sebelah Barat negera Jepang.

Ryoichi muda sempat mengalami beberapa halangan dalam perkembangan hidup dan pendidikannya dikarenakan masalah kesehatan. Ia memiliki kesehatan yang rapuh dan fisik yang lemah yang membuat dirinya sulit untuk menempuh standar pendidikan serta pendidikan tinggi, namun dengan kesabaran dan ketekunannya (yang mana dua hal ini akan membawa dirinya menjadi seorang ulama di masa depan), ia pun akhirnya lulus dari Yamaguci Commercial College pada bulan Maret 1916 pada umur 24 tahun.

Hubungan dengan Cina

Tidak seperti pemuda Jepang pada umumnya, Ryoichi memiliki ketertarikan yang luar biasa terhadap budaya Cina. Ambisi masa mudanya adalah untuk berpergian ke negeri Cina dan menguasai bahasa disana layaknya penduduk asli negeri Cina itu sendiri. Akhirnya tak lama setelah lulus dari kampus, beliau kemudian melakukan perjalanannya ke negeri Cina.

Episode perjalanan impian ini akan menjadi batu loncatan bagi Ryoichi dalam menemukan pesan pesan keislaman disana, di negeri Cina.

Dalam kesempatan – kesempatan yang terbatas yang ia dapati ketika bertemu dengan pemuda-pemuda muslim dari cina, ketertarikan Ryoichi akan prinsip dan gaya hidup orang muslim memicu kembali rasa ingin tahunya untuk belajar lebih banyak tentang agama Islam. Tidak seperti budaya cina, yang mana tradisi dan adat istiadatnya pernah ia dengar dari orang-orang di Jepang, baginya Islam adalah sesuatu yang amat asing dan sama sekali tidak diketahui sebelumnya.

Invasi Jepang dan Masuknya Islamnya Ryoichi Mita

Ryoichi muda pernah suatu saat memiliki kesempatan untuk berkenalan dengan salah seorang petualang Jepang yang bernama Haji Omar Kotaro Yamaoka.

Haji Omar Kotaro Yamaoka disebut-sebut sebagai orang Jepang pertama yang pergi Haji ke Mekkah pada tahun 1909. Pada tahun 1910, beliau kembali ke Jepang dengan membawa misi yang mulia yaitu memperkenalkan Islam ke seluruh penjuru Jepang.

Tidak mengherankan, ketika buku-buku dan artikel yang ditulis oleh Haji Omar Kotaro Yamaoka memancing imajinasi dan insting rasa ingin tahu Ryoichi muda yang baru saja kembali dari negeri Cina pada tahun 1921 yang membawanya untuk mulai belajar lebih dalam tentang tulisan-tulisan dan ceramahnya Haji Omar Kotaro Yamaoka yang mana puncaknya terjadilah pertemuan antara Ryoichi muda dan Haji Omar Kotaro Yamaoka di Kamakura dekat Tokyo. Kesempatan ini membuat Ryoichi Mita yang saat itu berusia 29 tahun mulai belajar tentang Islam secara intensif.

Insiden Manchuria
Di tahun berikutnya tepatnya pada tahun 1922, Ryoichi Mita kemudian menikah lalu pindah ke arah timur laut cina, di perbatasan luar Manchuria dimana ia ditugaskan untuk bekerja di sebuah perusahaan kereta api.

Ketika Insiden Manchuria terjadi dimana militer Jepang menginvasi Cina, yang mana menghasilkan banyak kekerasan dan kekejaman di berbagai komunitas. Tanpa pernah diduga sebelumnya, invasi yang dilakukan Jepang terhadap Cina menjadi sebuah jembatan pemisah antara orang Jepang dan komunitas Muslim di China untuk pertama kalinya.

Ryoichi Mita akhirnya mengambil langkah untuk menjadi seorang muslim pada tahun 1941. Saat itu ia berusia 49 tahun ketika Imam Wang Reilan pemimpin Masjid Nyuchie di Ibukota Cina, Beijing membantu dan membimbing Ryoichi untuk mengucap dua kalimat syahadat. Segera setelah mengucap syahadat, Ryoichi kemudian mengumumkan keislamannya dan mengganti namanya menjadi Umar Mita. 
Haji Umar Mita - Baris paling depan nomor dua dari kanan

Asosiasi Muslim Jepang

Selama masa peperangan Cina-Jepang (Sino-Japan War), banyak wilayah Cina berhasil ditaklukan oleh militer Jepang. Kebanyakan dari orang-orang Jepang yang baru masuk Islam kemudian memilih untuk pulang ke Jepang. Pada masa ini, Umar Mita memutuskan untuk tetap berada di negeri Cina sampai konflik berakhir. Setelah menghabiskan kurang lebih 30 tahun masa hidupnya bekerja di perusahaan kereta api disana, ia pun memutuskan untuk segera pensiun dan kembali ke Jepang.

Tak lama setelah ia pulang ke Jepang, ia lalu mengajar bahasa Cina untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kehidupan barunya di Jepang berjalan tidak begitu baik menyusul kematian tragis istrinya yang akhirnya membuat ia kembali berhenti bekerja dan menuntutnya untuk pindah ke daerah lain.

Pada tahun 1952, Umar Mita bermukim di Tokyo dan memutuskan untuk fokus mendalami agama Islam dan Bahasa Arab. Pada saat itu, Umar Mita telah menginjak 60 tahun dan mulai mendedikasikan hidupnya untuk belajar Islam dimulai dari pondasi utamanya.

Efek peperangan yang ditimbulkan di kota Tokyo pada waktu itu membuat makanan dan pakaian menjadi sangat langka ditambah tidak sedikit bangunan-bangunan yang luluh lantak menghiasi sudut-sudut kota Tokyo.

Namun, terlepas dari situasi yang semrawut ini, perlahan tapi pasti komunitas muslim mulai tumbuh dan berkembang. Tepat pada tahun 1953 organisai islam pertama muncul di Jepang dengan nama Asosiasi Muslim Jepang.

Imigran Muslim

Meskipun muslim pribumi Jepang memegang peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan komunitas muslim di sana, tak bisa kita pungkiri bahwa di Jepang pada awalnya juga banyak menerima kedatangan ratusan muslim yang berasal dari Turki, Uzbekistan, Tajikistan, Kyrgistan dan Kazakhstan serta daerah-daerah di Asia Tengah dan Rusia sebagai akibat dari peristiwa Revolusi Bolshevik pada Perang Dunia pertama.

Dengan kedatangan muslim-muslim tersebut, maka berdirilah beberapa masjid serta beberapa penduduk asli Jepang mulai memeluk Islam. Hal ini dibuktikan dengan berdirinya masjid pertama yaitu masjid Kobe, yang di bangun di distrik Kitano-cho pada tahun 1935.

Yang menakjubkan bahwa masjid Kobe ini sempat berhasil selamat dari serangan udara yang meluluh lantakan sebagian besar bangunan-bangunan yang ada di kota Kobe pada tahun 1945. Masjid Kobe juga berhasil bertahan dari dahsyatnya bencana gempa bumi Henshin pada tahun 1995, sementara bangunan-bangunan modern di sekitarnya banyak yang mengalami rusak parah.

Penerjemahan Al-Qur'an

Dalam mengejar studi Islamnya, Umar mita kemudian mengadakan perjalanan untuk yang kesekian kalinya. Ia berangkat ke Pakistan pada tahun 1957 ditemani oleh kelompok Jamaah Tabligh. Di tahun berikutnya, yaitu pada tahun 1958, ia melanjutkan perjalannanya ke Mekkah untuk melaksanak rukun Islam yang ke-lima yaitu Ibadah Haji. 

Ia pun menyempurnakan seluruh perjalanannya tersebut dengan kembali ke Jepang membawa sesuatu yang baru yaitu ambisi mendakwahkan Islam di kampung halamannya. Di saat yang sama, Umar Mita terpilih menjadi presiden Asosiasi Muslim Jepang menyusul wafatnya presiden sebelumnya.

Walaupun dakwah dan studinya tentang Islam dapat dikatakan terlambat mengingat saat itu ia telah berusia 69 tahun ketika semua kesempatan itu muncul di hadapannya. Namun hal tersebut tak menyurutkan dirinya serta ambisinya untuk tetap menyebarkan Islam kepada penduduk Jepang walau harus mengerahkan semua yang ia miliki.

Alhasil, di masa kepemimpinannya di Asosiasi Muslim Jepang, ia pun memulai proyek ambisiusnya untuk menerjemahkan Al-Qur'an ke dalam bahasa Jepang. Dengan demikian secara tidak langsung Umar Mita membuka pintu kesempatan yang lebar bagi seluruh orang-orang Jepang untuk bersentuhan langsung dengan risalah Islam. Tantangan yang dihadapi di dalam proyek ini terbilang cukup besar dikarenakan sebelumnya sudah ada empat terjemahan Al-Qur'an yang ditulis oleh kalangan non-muslim yang mana masing-masing dicetak pada tahun 1920, 1937, 1950, dan 1957.

Namun, sebagai seorang muslim, Haji Umar Mita tergerak dan merasa perlu untuk menerbitkan satu terjemahan Al-Qur'an yang baru bukan hanya karena terjemahan sebelumnya ditulis oleh non-muslim, tetapi juga karena terjemahan yang akan dibuat oleh Umar Mita akan menjadi terjemahan pertama yang langsung diterjemahkan dari Al-Qur'an berbahasa Arab. Tidak seperti terjemahan-terjemahan sebelumnya yang mana ketika diterjemahkan tidak langsung dari Al-Quran berbahasa Arab melainkan dari bahasa Perancis, Inggris, dan Jerman. Selain itu, terjemahan Umar Mita akan langsung diawasi dan direvisi dengan teliti oleh para ulama timur tengah yang menjadikan terjemahan ini sebagai terjemahan pertama Al-Qur'an yang sebenar-benarnya.

Di tengah-tengah proyeknya tersebut, Haji Umar Mita yang genap berusia 70 tahun melanjtkan perjalanannya kembali ke Pakistan pada tahun 1961. Ia menghabiskan beberapa waktu di Lahore sambil terus mengerjakan terjemahannya sembari melanjutkan studinya dalam bidang bahasa arab dan tafsir Al-Qur'an yang dibimbing oleh para ulama setempat.

Tak lama kemudian ia diundang untuk mengunjungi Mekkah dalam rangka mendapatkan dukungan dan dorongan dari Liga Muslim Dunia dalam misinya untuk menerjemahkan Al-Qur'an ke dalam bahasa Jepang.

Ketika berada disana, Haji Umar Mita tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk kembali belajar lebih banyak tentang Al-Qur'an dan bahasa arab langsung dari para ulama baik yang ada di Mekkah, Madinah, Jeddah, Thaif, dan Riyadh yang manamenghasilkan sebuah terjemahan yang sangat indah dan disertai dengan makna yang mendalam yang diambil langsung dari Al-Qur'an berbahasa arab.


Al-Qur'an Terjemahan Haji Umar Mita
Manuskrip Pertama Berbahasa Jepang

Setelah beberapa tahun mendedikasikan hidupnya untuk belajar dan berkomitmen teguh untuk menerjemahkan Al-Qur'an berbahasa Jepang, tepat pada tahun 1968, Haji Umar Mita merampungkan draft pertamanya yang kemudian ia kirimkan ke Asosiasi Muslim Jepang untuk ditinjau dan direvisi sebelum akhirnya diajukanlah naskah perbaikan dua tahun kemudian yaitu pada Juni 1970 ke Liga Muslim Dunia di Mekkah. Setelah dilakukan evaluasi secara menyeluruh dan seksama yang dilakukan oleh komite ahli khusus selama enam bulan, naskah tersebut akhirnya disetujui dan kontrak penerbitannya ditandatangani oleh Perusahaan Percetakan Takumi Kobo di Hiroshima.

Dua belas tahun setelah Haji Umar memulai proyek bersejarahnya untuk menerjemahkan Al-Qur'an ke dalam bahasa Jepang, ia pun akhirnya menyelesaikan seluruh terjemahannya tepat pada tanggal 10 Juni 1972. Cetakkan edisi pertama diterbitkan dan dicetak secara massif dengan dukungan Raja Faisal bin Abdul Aziz Al-Saud.

Sang Samurai Pertama


Haji Umar Mita
Haji Umar Mita meninggalkan sebuah warisan berharga nan indah disertai dengan kisah hidup yang luar biasa bagi sapa saja yang ingin mengambil pelajaran darinya. Beliau pun wafat pada tahun 1976 dalam usia delapan puluh empat tahun.

Meskipun sebagian orang masih memperdebatkan apakah Haji Umar Mita adalah sosok yang paling luar biasa dalam sejarah, namun kita bisa pastikan bahwa beliau merupakan seorang Samurai Muslim Pertama  sekaligus menjadi kebanggan bagi umat muslim di Jepang. 


Diterjemahkan dari:
Electronic Magazine - Great Muslim Lives Vol. 6 page: 17-20
oleh Satria Muttaqin 

Sunday, December 2, 2018

Perjalanan Hidup Manusia Mulia Nabi Muhammad ﷺ (Bagian 5: Nubuwwah)

Malam itu Rasulullah ﷺ melakukan aktifitas kesehariannya berdiam diri di dalam gua Hira. Saat itu beliau ﷺ telah pun menginjak usia 40 tahun. Semakin hari semakin terlihat jelas tanda – tanda kenabian muncul di hadapan beliau ﷺ laksana fajar menyingsing. Malam itu, Seperti biasanya beliau ﷺ beribadah sembari berdzikir mengingat Allah. Kegelapan malam yang menyelimuti saat itu akan segera sirna dengan cahaya kebenaran yang terang benderang yang akan menjadi awal sebuah peradaban di bawah naungan tuntunan Ilahiyah. Adalah malaikat Jibril yang Allah utus untuk menyampaikan risalah pertama kepada Muhammad, Rasulullah ﷺ sekaligus menandakan beliau ﷺ secara resmi diangkat sebagi Nabi akhir zaman. Penutup para Nabi dan risalahnya akan menjadi penyempurna risalah-risalah para nabi terdahulu. 

Jibril yang saat itu datang segera merangkul Rasulullah ﷺ sembari berkata, “Bacalah!”. Namun beliau ﷺ mengatakan bahwa beliau ﷺ tak dapat membaca. Jibril pun mengulangi perkataannya hingga tiga kali. Jibril kembali meraih dan merangkul beliau ﷺ hingga terasa begitu sesak. Lalu Jibril kemudian melepaskan beliau ﷺ dan berkata, 

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ (1 

خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ (2 

اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ (3 

لَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ (4 

عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ (5 

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (Al-Alaq: 1-3) 

Setelah kejadian itu, beliau ﷺ kemudian pulang dan langsung menemui Khadijah dan berkata, “Selimuti aku, selimuti aku!’ lalu beliau ﷺ melanjutkan, “Aku mengkhawatirkan keselamatan diriku”. Khadijah pun mencoba menenangkan dengan berkata, “Tidak demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya, karena engkau suka menyambung tali kekerabatan, memikul beban orang lain, memberi makan orang miskin, menjamu tamu, dan menolong orang yang tertimpa musibah” 

Rasulullah ﷺ kemudian dibawa oleh Khadijah untuk menemui Waraqh bin Naufal bin Asad bin Abul Uzza, saudara sepupu Khadijah. Beliau adalah nasrani semasa jahiliyah. Ia juga menulis kitab dalam Bahasa Ibrani dan menulis injil dalam Bahasa Ibrani pula. Ia sudah tua dan buta. 

Khadijah kemudian berkata kepada Waraqah, “Wahai sepupuku! Dengarkan kisah saudara sepupumu ini (Rasulullah ﷺ)"

Waraqah bertanya kepada beliau ﷺ, “Apa yang engkau lihat wahai saudara sepupuku?” 

Rasulullah ﷺ menyampaikan apa yang beliau ﷺ alami kemudian Waraqah pun berkata, “Itu adalah malaikat yang diturunkan Allah kepada Musa. Andai saja aku masih hidup tatkala kaummu mengusirmu.” 

Beliau ﷺ bertanya, “Benarkah mereka akan mengusirku?” 

Waraqah menjawab, “Benar. Tiada seorangpun membawa seperti yang engkau bawa melainkan akan dimusuhi. Andaikan aku masih hidup pada masamu nanti, aku akan membelamu dengan sungguh-sungguh”. Tak lama kemudian Waraqah meninggal dunia. 

Adapun tentang waktu saat peristiwa turunnya wahyu pertama yaitu terjadi di bulan Ramadhan di malam lailatul qadr. Allah berfirman, “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an" (Qs. Al-Baqarah: 185). Dan juga berfirman, “ Sesungguhnya Kami telaah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam lailatul qadr.” (Qs. Al-Qadr: 1). Sedangkan hadits-hadits shahih yang berkaitan dengan turunnya wahyu pertama ini menunjukkan bahwa peristiwa ini terjadi pada hari Senin sebelum terbit fajar. 

Adapun tentang tanggal jika kita lihat dari data-data diatas, maka dapat disimpulkan bahwa malam lailatul qadr di hari senin pada bulan Ramadhan adalah bertepatan dengan tanggal 10 Agustus 610 Masehi. Jika dilihat dari kalender qomariah maka saat itu beliau berusia 41 tahun, namun jika dilihat dari kalender syamsiah maka beliau saat itu berusia 39 tahun, 3 bulan dan 29 hari. 

Wahyu pun sempat behenti beberapa hari setelah peristiwa di gua Hira. Namun akhirnya Jibril kembali datang dan menyampaikan wahyu selanjutnya yaitu : 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلْمُدَّثِّرُ (1 

قُمْ فَأَنذِرْ (2 

وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ (3 

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ (4 

وَٱلرُّجْزَ فَٱهْجُرْ (5 

“Hai orang-orang yang berkemul (berselimut). Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah! Dan pakaianmu bersihkanlah. Dan tinggalkanlah segala (perbuatan) yang keji.” (Q.S. Al-Mudatsir: 1 -5.) 

Setelah turunnya ayat di atas, maka Rasulullah ﷺ mulai menyampaikan dakwah menuju Allah. Dakwah yang dilakukan di awal kenabian ini dilakukan dengan sembunyi-sembunyi mengingat betapa kerasnya kaum beliau ﷺ mempertahankan penyembahan terhadap berhala dan patung serta ajaran nenek moyang. 

Beliau ﷺ hanya menyampaikan dakwah kepada orang yang beliau kenal sebagai sosok yang baik, mencintai kebenaran, dan orang-orang yang beliau percaya. Beliau ﷺ lebih dahulu menyampaikan dakwah kepada keluarga, kerabat, dan teman-teman dekat sebelum yang lain. 

-bersambung….

Monday, November 26, 2018

Perjalanan Hidup Manusia Mulia Nabi Muhammad ﷺ (Bagian 4: Masa-Masa Kegelisahan)

Berbagai renovasi yang terjadi pada Ka'bah dari masa ke masa

Seperti yang diketahui, Rasulullah ﷺ adalah sosok yang begitu amanah, jujur, dan terpercaya. Tak ada satu orang Quraisy pun yang mengingkari hal itu. Salah satu bukti bahwa beliau ﷺ begitu dihormati oleh kaum Quraisy yaitu tatkala suatu ketika terjadilah peristiwa renovasi Ka’bah yang diakibatkan kerapuhan pada dindingnya saat banjir. Para pemimpin kabilah mulai mengerjakan proyek renovasi tersebut dan bertekad agar dana yang digunakan hanya berasal dari yang baik-baik saja. Mereka bahu membahu dalam pembangunan tersebut hingga sampailah pada bagian Hajar Aswad. Disini mereka berselisih satu sama lain tentang siapa yang paling berhak meletakkan Hajar Aswad pada tempatnya. Bahkan hampir-hampir terjadi pertumpahan darah disebabkan hal tersebut. Abu Umayyah Al-Mughirah Al-Makhzumi mencoba untuk memberikan jalan keluar atas permasalah ini yaitu menyerahkan putusan ini kepada siapa pun yang pertama kali masuk melalui pintu masjid. Akhirnya mereka semua menerima usulan ini.

Allah ﷻ pun menakdirkan orang yang pertama kali masuk setelah keputusan tersebut adalah Rasulullah ﷺ. Begitu melihat beliau ﷺ, mereka segera berkata, “Dia orang terpercaya, kami ridha padanya. Dia adalah Muhammad”. Setelah itu beliau ﷺ tiba di hadapan mereka dan memberitahukan perihal yang terjadi, beliau ﷺ pun meminta surban, lalu meletakkan Hajar Aswad. Setelah itu, beliau ﷺ meminta para pemuka kabilah yang berselisih untuk memegangi setiap ujung surban tersebut, kemudian memerintahkan untuk secara bersama-sama mengangkatnya. Setelah mendekati tempatnya, beliau ﷺ lalu mengambil Hajar Aswad dan meletakkannya di tempat semula. Hal ini kemudian diridhai oleh seluruh kaum pada saat itu.

Selain sosok yang amanah, jujur dan terpercaya, beliau ﷺ juga dikenal sebagai pribadi yang memiliki akal yang lurus, kuat dan berakhlak baik. Seluruh sifat-sifat terpuji ada pada diri beliau ﷺ mulai dari adil, bijak, zuhud, menerima apa adanya, santun, sabar, rendah hati, setia dan tulus. Beliau ﷺ juga sangat rajin dalam menyambung tali silaturahim, membantu orang-orang miskin dan membantu siapa saja yang terkena musibah. Allah ﷻ juga selalu menjaga dan memelihara beliau dari berbagai macam perilaku khurafat dan kekufuran. Beliau ﷺ tidak pernah menghadiri majelis-majelis berhala dan kesyirikan. Beliau ﷺ tidak pernah memakan daging yang disembelih atas nama selain Allah ﷻ. Tidak pernah menyembah berhala dan meminum khamr.

Patung-patung berhala sebelum datangnya Islam
Hari hari terus berlalu di kota Mekkah, penyembahan terhadap berhala serta perilaku kekufuran semakin menjadi-jadi di tengah kota. Hati Rasulullah ﷺ semakin terasa sempit dan sesak melihat kaummnya seperti itu. Beliau ﷺ mencoba untuk berfikir bagaimana menyelamatkan kaummnya dari kesengsaraan dan kebinasaan. Beliau ﷺ begitu merasa gelisah yang akhirnya membuncah seiring beranjaknya usia beliau ﷺ. Beliau ﷺ pun akhirnya memutuskan untuk menyendiri di gua Hira dan menjalankan sisa-sisa ajaran nabi Ibrahim disana. Hal ini terus menerus beliau ﷺ lakukan selama sebulan setiap tahunnya, tepatnya di bulan Ramadhan. Setelah selesai menyendiri, beliau ﷺ kembali ke Mekkah pada pagi hari, setelah itu berthawaf mengeliling Ka’bah, kemudian pulang ke rumah. Beliau ﷺ melakukan hal ini selam tiga tahun.  

Gua Hira: tempat nabi Muhammad ﷺ menyendiri (uzlah)
Tanda-tanda kenabian pun mulai nampak dan terlihat semakin jelas saat beliau ﷺ menginjak usia 40 tahun. Usia dimana para rasul-rasul terdahulu merupakan usia yang matang saat mereka diutus. Setiap kali beliau ﷺ bermimpi tentang sesuatu, maka mimpi itu pasti terjadi tepat seperti yang beliau ﷺ impikan. Beliau ﷺ  melihat cahaya dan mendengar suara. Beliau ﷺ bersabda, “Sungguh, aku tahu sebuah bongkahan batu di Mekkah yang selalu mengucap salam kepadaku sebelum aku diutus”.

-bersambung....

Sunday, November 25, 2018

Perjalanan Hidup Manusia Mulia Nabi Muhammad ﷺ (Bagian 3: Muhammad ﷺ Muda)

Tempat tinggal Rahib Buhaira

Rasulullah ﷺ kemudian kembali ke ibundanya setelah sebelumnya bersama Halimah. Beliau ﷺ tinggal kemudian kurang lebih selama 2 tahun. Setelah itu ibunda Rasulullah ﷺ pergi untuk menziarahi makam suaminya dan juga paman-paman serta kakek-kakek beliau dari keluarga Bani Adi bin Najjar di Madinah. Kurang lebih sebulan lamanya ibunda Rasulullah ﷺ tinggal di Madinah dan memutuskan untuk kembali ke Mekkah. Di dalam perjalannannya, ibunda Rasulullah ﷺ jatuh sakit dan penyakitnya semakin parah hingga akhirnya meninggal dunia di Abwa’ sebuah tempat antara Mekkah dan Madinah. Disana pula lah beliau di makamkan.

Sepeninggal Aminah, Rasulullah ﷺ kemudian kembali di asuh oleh kakeknya Abdul Muthallib. Abdul Muthallib begitu merasa iba kepada Rasulullah ﷺ karena beliau ﷺ telah ditinggalkan oleh kedua orang tua sejak dini. Oleh karena itu Abdul Muthallib sangat mengedepankan Rasulullah ﷺ dan memuliakan beliau ﷺ. Kesedihan tak berhenti sampai disitu, Rasulullah ﷺ kembali kehilangan orang yang sangat menyayanginya. Abdul Muthallib akhirnya meninggal dunia saat Rasulullah ﷺ berumur 8 tahun.

Kemudian pengasuhan atas Rasulullah ﷺ dilanjutkan oleh paman beliau ﷺ, yaitu Abu Thalib, saudara kandung ayah beliau ﷺ. Di tangan Abu Thalib, Rasulullah ﷺ senantiasa mendapat tempat dan perhatian serta kasih sayang yang amat besar walaupun dari segi harta, Abu Thalib bukanlah orang yang mampu, namun sifat kesabaran dan menerima apa adanya yang dimiliki Rasulullah ﷺ menjadikan harta yang sedikit tersebut senantiasa diberkahi Allah ﷻ.

Ketika Rasulullah ﷺ berumur 12 tahun, Abu Thalib mengajak beliau ﷺ untuk ikut berdagang ke negeri Syam bersama kafilah Quraisy. Saat tiba di dekat kota Bushra di perbatasan Syam, salah seorang pendeta besar Nasrani (Bahira si rahib) menghampiri mereka kemudian mencari cari seseorang hingga ia berhasil meraih tangan Rasulullah ﷺ lalu berkata, “Dia adalah pemimpin seluruh alam. Anak ini kelak akan diutus Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam”.

Rombongan pun bertanya, “Dari mana engkau tahu hal itu?”

Bahira menjawab, “ Sejak kalian tiba di Aqabah, tidak ada satu pun batu dan pohon melainkan pasti sujud, dan semua benda itu tidaklah sujud melainkan pada seorang nabi. Aku bisa mengetahui hal itu melalui tanda kenabian yang berada di bawah tulang rawan bahunya, menyerupai buah apel. Kami juga mengetahui tanda itu dalam kitab kami.”

Setelah itu Bahira meminta agar membawa Rasulullah ﷺ kembali pulang dan jangan meneruskan perjalanan karena khawatir akan orang-orang romawi dan yahudi merenggut keselamaan beliau ﷺ. Abu Thalib pun mengirim beliau pulang ke Mekkah.

Pada usia ke 20 tahun, Rasulullah ﷺ mengikuti perang Fijar, yaitu perang antara kaum Quraisy dan kaum Qais Ailan. Disini beliau berperan menyiapkan anak-anak panah untuk paman-paman beliau ﷺ. Namun, dikarenakan begitu banyak korban jiwa yang jatuh di kedua pelah pihak, akhirnya mereka sepakat untuk gencatan senjata.

Pasca perang Fijar, maka terjadilah perjanjian Fudhul antara lima keturunan kabilah Quraisy. Yaitu Bani Hasyim, Bani Muththallib, Bani Asad, Bani Zuhrah dan Bani Taim. Perjanjian ini berisi tentang siapa saja yang diperlakukan secara zalim dan semena-mena baik dari kalangan penduduk Mekkah maupun lainnya akan dibela sampai hak-haknya dikembalikan. Perjanjian ini dihadiri oleh rasulullah ﷺ beserta paman-paman beliau ﷺ. Rasulullah pernah bersabda ketika beliau sudah diangkat menjadi nabi tentang peristiwa perjanjian ini, “Aku pernah menyaksikan di rumah Abdulllah bin Jad’an suatu perjanjian yang lebih aku sukai dari unta merah, andai aku diundang untuk perjanjian tersebut di masa Islam, pasti akan aku penuhi”.

Pada mulanya, Rasulullah ﷺ bekerja sebagai penggembala kambing dengan upah beberapa qirath. Dan ini menjadi sunnatullah para nabi karena Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Tak ada seorang nabi pun melainkan pasti pernah menggembalakan kambing”.

Setelah beranjak dewasa, beliau akhirnya ikut berdagang. Dalam berdagang, beliau ﷺ dikenal sebagai pribadi yang jujur, amanah, dan menjaga diri sehingga akhirnya beliau ﷺ dijuluki sebagai Al-Amin yang berarti orang yang terpercaya. Kabar tentang Rasulullah ﷺ akhirnya terdengar oleh Khadijah binti Khuwailid. Khadijah adalah seorang wanita Quraisy yang mulia dan kaya raya. Suatu hari Khadijah mengutus utusannya untuk menawarkan Rasulullah ﷺ dagangan yang untuk kemudian dibawa ke negeri Syam. Rasulullah ﷺ menerima tawaran tersebut dan beliau bersama utusan Khadijah pergi berdagang ke Syam. Khadijah pun mendapat untung yang besar dari perdagagan yang dilakukan Rasulullah ﷺ. Dan yang paling menarik Khadijah adalah sifat Rasulullah ﷺ yang begitu amanah terhadap barang dagangannya.

Semenjak itu, Khadijah merasa bahwa Rasulullah ﷺ adalah sosok yang ia cari-cari selama ini. Kemudian ia pun kembali mengirim utusan untuk menyampaikan keinginannya menikah dengan Rasulullah ﷺ. Rasulullah pun menerima tawaran itu kemudian beliau ﷺ berbicara kepada paman-pamannya untuk segera melakukan lamaran kepada Khadijah.

Akhirnya paman Khadijah menikahkannya dengan Rasulullah ﷺ dengan dihadiri Bani Hasyim dan para pemuka Quraisy dengan mahar 20 ekor unta. Ketika pernikahan ini terjadi Rasulullah ﷺ berusia 25 tahun dan Khadijah 40 tahun (menurut pendapat yang masyhur). Ada juga yang menyebutkan saat itu usia Khadijah adalah 28 tahun. Dari pernikahannya dengan Khadijah, beliau ﷺ dikaruniai Qasim, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fathimah, dan Abdullah. Kesemua putra-putri beliau ﷺ meninggal dunia saat masih kecil kecuali Fathimah. Namun kesemuanya masuk Islam dan ikut berhijrah ke Madinah.

-bersambung….

Saturday, November 24, 2018

Perjalanan Hidup Manusia Mulia Nabi Muhammad ﷺ (Bagian 2: Kelahiran dan Masa Menyusui Beliau ﷺ)

Sebelum kita masuk kepada peristiwa lahirnya Nabi kita yang mulia Muhammad ﷺ, ada baiknya kita menyimak peristiwa besar yang terjadi sebelum kelahiran beliau ﷺ. Banyak sekali cerita-cerita yang mahsyur di kalangan kita mengenai peristiwa-peristiwa besar yang terjadi menyongsong kelahiran baginda Muhammad ﷺ. Namun, tak sedikit pula dari riwayat-riwayat tersebut memiliki status yang lemah dan tidak dapat dijadikan hujjah. Walau demikian ada satu peristiwa yang seluruh ulama bersepakat bahwa peristiwa ini betul-betul terjadi bahkan Allah ﷻ sendiri mengabadikannya di dalam Al-Qur’an melalui surah Al-Fiil. Peristiwa ini yaitu penyerangan Abrahah ke Mekkah.

Sudah semenjak dari zaman Nabi Ibrahim, Ka’bah selalu menjadi tempat yang paling penting dan paling ramai untuk dikunjungi bahkan hingga masa kaum Quraisy menjadi pengurus utamanya dengan Abdul Muthallib sebagai pemimpinnya. Ini menyebabkan Abrahah, seorang raja di Yaman menjadi iri dan akhirnya memutuskan untuk membangun gereja yang paling besar dan megah di Yaman dalam rangka untuk menandingi Ka’bah serta mengalihkan orang-orang agar lebih memilih mengunjungi gerejanya di bandingkan dengan Ka’bah. Sampailah berita tersebut kepada penduduk Arab, hingga salah seorang dari bani Kinanah pergi ke Yaman untuk melihat bangunan Abrahah tersebut. Namun seorang tadi bukan hanya melihat gereja, melainkan membuang kotoran disana serta mengencingi bangunan gereja Abrahah. Mendengar hal tersebut Abrahah pun marah dan segera menyiapkan pasukan yang besar termasuk membawa gajah-gajah yang paling besar yang belum pernah dilihat oleh manusia sebelumnya.

Bangsa Arab pun kemudian mengetahui pergerakan Abrahah menuju Mekkah untuk menghancurkan Ka’bah. Namun sayang saat itu kaum Quraisy terpecah belah dan tidak ada persatuan hingga tidak ada yang dapat melawannya. Ketika Abrahah sampai di suatu tempat yang bernama Mughammas, datanglah Abdul Muthallib untuk melakukan perundingan. Melihat kedatangan Abdul Muthallib, Abrahah pun mempersilahkan ia untuk duduk bersama. Tak disangka ternyata Abdul Muthallib hanya menginginkan 200 unta yang diambil Abrahah untuk dikembalikan padanya. Seketika pandangan Abrahah pun berubah, dari tadinya menghormati Abdul Muthallib menjadi menyepelekannya.

Abrahah berkata, “sungguh tadinya engkau membuatku kagum tatkala melihatmu, namun aku menjadi menyepelekanmu ketika engkau berbicara denganku (mengenai onta tadi-pent). Apakah engkau berbicara mengenai 200 ekor ontamu yang aku ambil agar aku mengembalikannya padamu, lalu engkau membiarkan Ka’bah yang merupakan agamamu dan agama nenek moyangmu, sementara aku datang untuk menghancurkannya, lantas engkau tidak berbicara kepadaku tentang Ka’bah?”

Jawaban Abdul Muthallib begitu mengejutkan, beliau berkata, “Sesungguhnya aku adalah pemilik onta, dan sesungguhnya Ka’bah punya pemilik sendiri yang akan membelanya (yaitu Allah ﷻ).”

Dalam riwayat yang lain Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata;

Abdul Mutthalib mendatangi mereka dan berkata, “Sesungguhnya ini adalah rumah Allah. Allah tidak akan menyerahkannya kepada seorangpun untuk menguasai nya (menghancurkannya).” Mereka berkata, “Kami tidak akan kembali hingga kami menghancurkannya.” Maka tidaklah mereka memerintahkan gajah mereka untuk maju kecuali gajah tersebut mundur. Allah ﷻ kemudian memanggil burung-burung dengan berbondong-bondong, lalu Allah ﷻ memberikan batu berwarna hitam kepada burung-burung tersebut. Tatkala burung-burung itu telah sejajar dengan mereka maka burung-burung itu melemparkan batu tersebut kepada mereka. Sehingga tidak tersisa seorang pun dari mereka kecuali mengalami rasa gatal (yang luar biasa-pent). Tidaklah seorangpun dari mereka yang menggaruk kulitnya kecuali dagingnya berjatuhan.” (Disebutkan oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 12/207 dan beliau menilai sanadnya hasan)

Begitulah akhir kisah pasukan Abrahah yang hancur lebur oleh pasukan burung-burung yang Allah ﷻ utus. Ada yang mengatakan bahwa Abrahah tidak mati disana melainkan Allah ﷻ siksa ia lebih dahulu dengan terlepasnya setiap bagian bagian tubuhnya hingga ia mati di kota Shan’a.

50 hari setelah kejadian tersebut, maka peristiwa luar biasa lainnya yang terjadi adalah lahirnya Nabi yang Mulia Muhammad Rasulullah ﷺ pada hari senin pagi, tanggal 9 Rabi’ul Awwal (ada yang mengatakan 12 Rabi’ul Awwal) tahun gajah dan bertepatan dengan tanggal 22 April 577 Masehi.

Bidan yang menangani kelahiran beliau ﷺ adalah Syifa’ binti Amr Ummu Addurrahman bin Auf. Tatkala Aminah melahirkan Rasulullah ﷺ ada cahaya keluar dari dirinya yang menyinari istana-istana Syam. Aminah mengirim utusan untuk menyampaikan kabar gembira kepada kakek beliau ﷺ, Abdul Muthallib.

Rumah Rasulullah yang sekarang menjadi perpustakaan
Abdul Muthallib kemudian menggendong Rasulullah ﷺ, memasukannya ke dalam ka’bah, bersyukur dan berdoa kepada-Nya kemudian memberinya nama Muhammad dengan harapan semoga si bayi menjadi orang yang terpuji. Setelah tujuh hari, Abdul Muthallib melangsungkan aqiqah dan mengkhitan beliau ﷺ serta memberikan jamuan makan kepada orang-orang. Salah seorang paman Rasulullah ﷺ yang lain yang ikut bergembira atas kelahiran beliau ﷺ adalah Abu Lahab. Saking bahagianya, ia memerdekakan budaknya dalam rangka bersuka cita atas kelahiran keponakannya. Namun sayang pada akhirnya ia menjadi musuh bebuyutan Nabi ﷺ.

Adapun wanita pertama yang menyusui beliau ﷺ setelah ibundanya adalah Tsuwaibah. Sebagaimana yang telah menjadi tradisi bangsa Arab, anak yang baru lahir kemudian dicarikan ibu susuan agar otot-otot mereka menjadi kuat serta menjauhkannya dari berbagai penyakit. Maka kemudian Allah ﷻ menakdirkan seorang wanita yaitu Halimah binti Abu Dzuwaib. Keberkahan pun melanda Halimah binti Abu Dzuwaib. Mulai dari unta suaminya yang penuh berisi susu lalu keledai yang ditunggangi Halimah berjalan dengan cepat hingga tak seekorpun dapat menyusulnya. Setelah sampai di kampung Bani Sa’ad, kambing-kambing milik Halimah dan suaminya sudah berada dalam keadaan kenyang dengan perut penuh berisi rerumputan dan kantong susu  yang penuh berisi air susu. Halimah pun menyusui beliau ﷺ selama 2 tahun kemudian menyapihnya dan saat itu beliau ﷺ sudah kuat.

Peristiwa mengejutkan kembali terjadi, Rasulullah ﷺ di datangi malaikat Jibril ketika beliau sedang bermain bersama teman-temannya. Jibril lalu meraih dan membaringkan beliau ﷺ. Jibril kemudian membelah dada beliau ﷺ, mengeluarkan hati beliau ﷺ lalu mengeluarkan segumpal darah darinya. Jibril berkata, “ini bagian setan darimu.” Setelah itu Jibril membasuh gumpalan darah itu dalam baskom emas dengan air zam-zam lalu merapatkannya dan mengembalikanya ke tempat semula.

Anak-anak berlarian kemudian mendatangi Halimah dan mengatakan “Muhammad terbunuh”. Mereka kemudian mendatangi beliau ﷺ dalam keadaan pucat.

Setelah peristiwa itu, Halimah pun mengembalikan Rasulullah ke pangkuan ibunda beliau ﷺ.

-bersambung….

Friday, November 23, 2018

Perjalanan Hidup Manusia Mulia Nabi Muhammad ﷺ (Bagian 1: Nasab dan Keluarga Beliau ﷺ)



Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhir bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan.

Adapun Adnan berasal dari keturunan Ismail bin Ibrahim. Hanya saja tidak diketahui pasti berapa jumlah nama orang antara Adnan dan Ismail.

Ibu beliau bernama Aminah binti Wahab bin Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab. Jadi Ayah dan Ibu beliau ﷺ bertemu di kakek kelima Rasulullah ﷺ yaitu Kilab. 

Beliau ﷺ berasal dari kabilah Quraisy. Quraisy adalah julukan bagi Fihr bin Malik atau Nadhr bin Kinanah. Salah satu pemimpin terhormat di kalangan Quraisy adalah Qushay (kakek ke-4 Rasulullah ﷺ). Ia adalah orang pertama yang mengurusi Ka’bah dengan kata lain beliau lah yang memegang kunci Ka’bah. Dan Ia lah yang menempatkan Quraisy di lembah Mekkah. Qushay juga membangun sebuah rumah di bagian utara Ka’bah yang kemudian dikenal sebagai Darun Nadhwa. Disana lah para tokoh-tokoh Quraisy mengadakan permusyawaratan dan kesepakatan serta kegiatan-kegiatan sosial lainnya. Ia juga yang memegang panji perang kaum Quraisy. Bagi para kaummnya, ia adalah sosok cendikiawan, dermawan, dan orang yang sangat didengar kata-katanya.

Keluarga beliau ﷺ dikenal dengan keluarga Hasyimiyah, dinisbatkan kepada kakek ke-2 beliau ﷺ yaitu Hasyim bin Abdi Manaf. Hasyim adalah julukannya sedangkan nama aslinya adalah Amr. Ia dijuluki Hasyim dikarenakan ia suka meremukkan roti kemudian dicampur dengan daging lalu dibuat roti kuah, setelah itu mempersilahkan orang-orang untuk memakannya.

Suatu kali, Hasyim melintas di Yatsir di tengah perjalanan dagangnya ke Syam. Ia kemudian menikahi Salmah binti Amr dari Bani Adi bin Najjar dan tinggal disana bersama isternya untuk beberapa waktu. Saat isterinya mengandung ia melanjutkan perjalanan ke Syam. Namun pada saat tiba di Palestina, ia meninggal dunia. Salma, melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Syaibah di Madinah dan dirawat serta diasuh oleh paman-pamannya disana. Ketika salah satu pamannya yang di Mekkah bernama Muthallib mengetahui kelahirannya, segera ia membawa Syaibah kembali ke Mekkah. Orang-orang Mekkah tidak mengetahui bahwa anak yang dibawa Muthallib ini adalah keponakannya melainkan seorang budak, sehingga mereka menjuluki anak tersebut dengan sebutan Abdul Muthallib (budaknya Muthallib).

Abdul Muthallib lantas menjadi orang yang paling besar kedudukannya di Mekkah. Ia meraih kemuliaan di zamannya. Ia adalah pemimpin dari kaummnya, Quraisy. Pemimpin kafilah dagang dan dijuluki Fayyadh dikarenakan kemurah hatiannya serta kedermawanannya yang senantiasa memberi makan orang-orang miskin. Ia juga mendapatkan kemulian untuk menggali sumur zam-zam setelah sebelumnya sumur tersebut ditutup oleh kabilah Jurhum ketika mereka pergi meninggalkan Mekkah. Ia mendapatkan mimpi mengenai tempat dan letak sumur tersebut sehingga ia dapat menggalinya.

Di masa Abdul Muthallib inilah terjadi peristiwa gajah yang diabadikan Allah di Qur’an melalui Surat Al-Fiil. Abrahah Al-Asyram datang dari Yaman dengan membawa 60 ribu pasukan dengan beberapa gajah untuk menghancurkan Ka’bah. Namun, Allah menurunkan bala tentara-Nya berupa burung Ababil dengan membawa batu-batu yang dibakar kemudian menghancurkan seluruh pasukan beserta gajah-gajahnya layaknya dedaunan yang dimakan ulat. Peristiwa ini terjadi kurang lebih 2 bulan sebelum kelahiran Nabi ﷺ.

Silisilah Rasulullah dari jalur Adnan. Sumber: Atlas of the Islamic Conquest, hal: 72 cetakkan Dar-us-Salam 2010 - Riyadh

Abdul Muthallib memiliki memiliki salah seorang anak bernama Abdullah yang nantinya akan menjadi ayah dari Rasulullah ﷺ. Ada kisah yang unik pada diri Abdullah. Suatu hari ketika sumur zam-zam berhasil digali, seluruh kaum Quraisy mencoba memperebutkannya. Melihat hal itu, Abdul Muthallib bernazar jika Allah memberinya sepuluh orang anak kemudian ia rawat hingga bisa membelanya maka ia akan mengorbankan salah satu anaknya. Ketika semuanya telah didapatkan Abdul Muthallib, lantas ia pun mulai mengundi anaknya untuk di korbankan. Nama Abdullah pun keluar untuk disembelih. Ketika ia membawa Abdullah ke depan Ka’bah untuk kemudian disembelih, orang-orang pun mencoba untuk menahannya hingga akhirnya Abdul Muthallib menebusnya dengan 100 ekor unta.

Dari sinilah kemudian Rasulullah dijuluki sebagai putra Adz-Dzabihain (dua orang yang hampir disembelih) yaitu Ismail dan Abdullah. Beliau juga dijuluki sebagai putra Mafdiyyain (dua orang yang ditebus) karena Ismail ditebus dengan domba dan Abdullah ditebus dengan 100 ekor unta.

Singkat cerita, Abdul Muthallib memilih Aminah binti Wahab sebagai isteri untuk Abdullah, anaknya. Aminah merupakan sosok wanita Quraisy dengan kemuliaan dan kedudukan terbaik. Ayahnya adalah Wahab, pemimpin Bani Zuhrah. Akhirnya mereka Abdullah dan Aminah membina rumah tangga di Mekkah.

Kemudian Abdul Muthallib mengutus Abdullah untuk pergi berdagang ke negeri Syam, lalu meninggal dunia saat di Madinah setelah pulang dari Syam dan dimakamkan di Darun Nabighah Adzubaini. Dikisahkan meninggalnya Abdullah terjadi sebelum Nabi ﷺ yang mulia lahir ke dunia.

-bersambung….

Monday, August 18, 2014

How to Calculate Your TOEFL Score


Have you taken your TOEFL test? If you have, I believe you already knew how much you get your score. But did you wonder where your score comes up from? Me, myself at first felt very confused because I've never got score with three digits before. If you have the same feeling like me, let's take a look how do we get our TOEFL Score.

To find out our TOEFL score, there are at least 2 stages. First, we need to convert the correct answers that we have through TOEFL scoring table as follows:


For example, if we have 35 correct answers in section 1, 30 correct answers in section 2 and 48 correct answers in section 3 then we can see how do we convert the score as follows:


Section 1
Section 2
Section 3
The Correct Answers
35
30
48
Converted Score
54
54
65

The next stage:
1. sum up all of the converted scores :  54 + 54 + 65 = 173
2. divide into 3 : 173/3 = 57.7
3. times to 10 : 57.7 x 10 = 577

So, your TOEFL score is 577

Finally, it is so easy to calculate your TOEFL score isn't it? 
see you next time :)

by:
Satria Muttaqin