Sunday, November 25, 2018

Perjalanan Hidup Manusia Mulia Nabi Muhammad ﷺ (Bagian 3: Muhammad ﷺ Muda)

Tempat tinggal Rahib Buhaira

Rasulullah kemudian kembali ke ibundanya setelah sebelumnya bersama Halimah. Beliau tinggal kemudian kurang lebih selama 2 tahun. Setelah itu ibunda Rasulullah pergi untuk menziarahi makam suaminya dan juga paman-paman serta kakek-kakek beliau dari keluarga Bani Adi bin Najjar di Madinah. Kurang lebih sebulan lamanya ibunda Rasulullah tinggal di Madinah dan memutuskan untuk kembali ke Mekkah. Di dalam perjalannannya, ibunda Rasulullah jatuh sakit dan penyakitnya semakin parah hingga akhirnya meninggal dunia di Abwa’ sebuah tempat antara Mekkah dan Madinah. Disana pula lah beliau di makamkan.

Sepeninggal Aminah, Rasulullah kemudian kembali di asuh oleh kakeknya Abdul Muthallib. Abdul Muthallib begitu merasa iba kepada Rasulullah karena beliau telah ditinggalkan oleh kedua orang tua sejak dini. Oleh karena itu Abdul Muthallib sangat mengedepankan Rasulullah dan memuliakan beliau . Kesedihan tak berhenti sampai disitu, Rasulullah kembali kehilangan orang yang sangat menyayanginya. Abdul Muthallib akhirnya meninggal dunia saat Rasulullah berumur 8 tahun.

Kemudian pengasuhan atas Rasulullah dilanjutkan oleh paman beliau , yaitu Abu Thalib, saudara kandung ayah beliau . Di tangan Abu Thalib, Rasulullah senantiasa mendapat tempat dan perhatian serta kasih sayang yang amat besar walaupun dari segi harta, Abu Thalib bukanlah orang yang mampu, namun sifat kesabaran dan menerima apa adanya yang dimiliki Rasulullah menjadikan harta yang sedikit tersebut senantiasa diberkahi Allah .

Ketika Rasulullah berumur 12 tahun, Abu Thalib mengajak beliau untuk ikut berdagang ke negeri Syam bersama kafilah Quraisy. Saat tiba di dekat kota Bushra di perbatasan Syam, salah seorang pendeta besar Nasrani (Bahira si rahib) menghampiri mereka kemudian mencari cari seseorang hingga ia berhasil meraih tangan Rasulullah lalu berkata, “Dia adalah pemimpin seluruh alam. Anak ini kelak akan diutus Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam”.

Rombongan pun bertanya, “Dari mana engkau tahu hal itu?”

Bahira menjawab, “ Sejak kalian tiba di Aqabah, tidak ada satu pun batu dan pohon melainkan pasti sujud, dan semua benda itu tidaklah sujud melainkan pada seorang nabi. Aku bisa mengetahui hal itu melalui tanda kenabian yang berada di bawah tulang rawan bahunya, menyerupai buah apel. Kami juga mengetahui tanda itu dalam kitab kami.”

Setelah itu Bahira meminta agar membawa Rasulullah kembali pulang dan jangan meneruskan perjalanan karena khawatir akan orang-orang romawi dan yahudi merenggut keselamaan beliau . Abu Thalib pun mengirim beliau pulang ke Mekkah.

Pada usia ke 20 tahun, Rasulullah mengikuti perang Fijar, yaitu perang antara kaum Quraisy dan kaum Qais Ailan. Disini beliau berperan menyiapkan anak-anak panah untuk paman-paman beliau . Namun, dikarenakan begitu banyak korban jiwa yang jatuh di kedua pelah pihak, akhirnya mereka sepakat untuk gencatan senjata.

Pasca perang Fijar, maka terjadilah perjanjian Fudhul antara lima keturunan kabilah Quraisy. Yaitu Bani Hasyim, Bani Muththallib, Bani Asad, Bani Zuhrah dan Bani Taim. Perjanjian ini berisi tentang siapa saja yang diperlakukan secara zalim dan semena-mena baik dari kalangan penduduk Mekkah maupun lainnya akan dibela sampai hak-haknya dikembalikan. Perjanjian ini dihadiri oleh rasulullah beserta paman-paman beliau . Rasulullah pernah bersabda ketika beliau sudah diangkat menjadi nabi tentang peristiwa perjanjian ini, “Aku pernah menyaksikan di rumah Abdulllah bin Jad’an suatu perjanjian yang lebih aku sukai dari unta merah, andai aku diundang untuk perjanjian tersebut di masa Islam, pasti akan aku penuhi”.

Pada mulanya, Rasulullah bekerja sebagai penggembala kambing dengan upah beberapa qirath. Dan ini menjadi sunnatullah para nabi karena Rasulullah pernah bersabda, “Tak ada seorang nabi pun melainkan pasti pernah menggembalakan kambing”.

Setelah beranjak dewasa, beliau akhirnya ikut berdagang. Dalam berdagang, beliau dikenal sebagai pribadi yang jujur, amanah, dan menjaga diri sehingga akhirnya beliau dijuluki sebagai Al-Amin yang berarti orang yang terpercaya. Kabar tentang Rasulullah akhirnya terdengar oleh Khadijah binti Khuwailid. Khadijah adalah seorang wanita Quraisy yang mulia dan kaya raya. Suatu hari Khadijah mengutus utusannya untuk menawarkan Rasulullah dagangan yang untuk kemudian dibawa ke negeri Syam. Rasulullah menerima tawaran tersebut dan beliau bersama utusan Khadijah pergi berdagang ke Syam. Khadijah pun mendapat untung yang besar dari perdagagan yang dilakukan Rasulullah . Dan yang paling menarik Khadijah adalah sifat Rasulullah yang begitu amanah terhadap barang dagangannya.

Semenjak itu, Khadijah merasa bahwa Rasulullah adalah sosok yang ia cari-cari selama ini. Kemudian ia pun kembali mengirim utusan untuk menyampaikan keinginannya menikah dengan Rasulullah . Rasulullah pun menerima tawaran itu kemudian beliau berbicara kepada paman-pamannya untuk segera melakukan lamaran kepada Khadijah.

Akhirnya paman Khadijah menikahkannya dengan Rasulullah dengan dihadiri Bani Hasyim dan para pemuka Quraisy dengan mahar 20 ekor unta. Ketika pernikahan ini terjadi Rasulullah ﷺ berusia 25 tahun dan Khadijah 40 tahun (menurut pendapat yang masyhur). Ada juga yang menyebutkan saat itu usia Khadijah adalah 28 tahun. Dari pernikahannya dengan Khadijah, beliau dikaruniai Qasim, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fathimah, dan Abdullah. Kesemua putra-putri beliau ﷺ meninggal dunia saat masih kecil kecuali Fathimah. Namun kesemuanya masuk Islam dan ikut berhijrah ke Madinah.

-bersambung….

No comments:

Post a Comment