Monday, November 26, 2018

Perjalanan Hidup Manusia Mulia Nabi Muhammad ﷺ (Bagian 4: Masa-Masa Kegelisahan)

Berbagai renovasi yang terjadi pada Ka'bah dari masa ke masa

Seperti yang diketahui, Rasulullah adalah sosok yang begitu amanah, jujur, dan terpercaya. Tak ada satu orang Quraisy pun yang mengingkari hal itu. Salah satu bukti bahwa beliau begitu dihormati oleh kaum Quraisy yaitu tatkala suatu ketika terjadilah peristiwa renovasi Ka’bah yang diakibatkan kerapuhan pada dindingnya saat banjir. Para pemimpin kabilah mulai mengerjakan proyek renovasi tersebut dan bertekad agar dana yang digunakan hanya berasal dari yang baik-baik saja. Mereka bahu membahu dalam pembangunan tersebut hingga sampailah pada bagian Hajar Aswad. Disini mereka berselisih satu sama lain tentang siapa yang paling berhak meletakkan Hajar Aswad pada tempatnya. Bahkan hampir-hampir terjadi pertumpahan darah disebabkan hal tersebut. Abu Umayyah Al-Mughirah Al-Makhzumi mencoba untuk memberikan jalan keluar atas permasalah ini yaitu menyerahkan putusan ini kepada siapa pun yang pertama kali masuk melalui pintu masjid. Akhirnya mereka semua menerima usulan ini.

Allah pun menakdirkan orang yang pertama kali masuk setelah keputusan tersebut adalah Rasulullah . Begitu melihat beliau , mereka segera berkata, “Dia orang terpercaya, kami ridha padanya. Dia adalah Muhammad”. Setelah itu beliau tiba di hadapan mereka dan memberitahukan perihal yang terjadi, beliau pun meminta surban, lalu meletakkan Hajar Aswad. Setelah itu, beliau meminta para pemuka kabilah yang berselisih untuk memegangi setiap ujung surban tersebut, kemudian memerintahkan untuk secara bersama-sama mengangkatnya. Setelah mendekati tempatnya, beliau lalu mengambil Hajar Aswad dan meletakkannya di tempat semula. Hal ini kemudian diridhai oleh seluruh kaum pada saat itu.

Selain sosok yang amanah, jujur dan terpercaya, beliau juga dikenal sebagai pribadi yang memiliki akal yang lurus, kuat dan berakhlak baik. Seluruh sifat-sifat terpuji ada pada diri beliau mulai dari adil, bijak, zuhud, menerima apa adanya, santun, sabar, rendah hati, setia dan tulus. Beliau juga sangat rajin dalam menyambung tali silaturahim, membantu orang-orang miskin dan membantu siapa saja yang terkena musibah. Allah juga selalu menjaga dan memelihara beliau dari berbagai macam perilaku khurafat dan kekufuran. Beliau tidak pernah menghadiri majelis-majelis berhala dan kesyirikan. Beliau tidak pernah memakan daging yang disembelih atas nama selain Allah . Tidak pernah menyembah berhala dan meminum khamr.

Patung-patung berhala sebelum datangnya Islam
Hari hari terus berlalu di kota Mekkah, penyembahan terhadap berhala serta perilaku kekufuran semakin menjadi-jadi di tengah kota. Hati Rasulullah semakin terasa sempit dan sesak melihat kaummnya seperti itu. Beliau mencoba untuk berfikir bagaimana menyelamatkan kaummnya dari kesengsaraan dan kebinasaan. Beliau begitu merasa gelisah yang akhirnya membuncah seiring beranjaknya usia beliau . Beliau pun akhirnya memutuskan untuk menyendiri di gua Hira dan menjalankan sisa-sisa ajaran nabi Ibrahim disana. Hal ini terus menerus beliau lakukan selama sebulan setiap tahunnya, tepatnya di bulan Ramadhan. Setelah selesai menyendiri, beliau kembali ke Mekkah pada pagi hari, setelah itu berthawaf mengeliling Ka’bah, kemudian pulang ke rumah. Beliau melakukan hal ini selam tiga tahun.  

Gua Hira: tempat nabi Muhammad ﷺ menyendiri (uzlah)
Tanda-tanda kenabian pun mulai nampak dan terlihat semakin jelas saat beliau menginjak usia 40 tahun. Usia dimana para rasul-rasul terdahulu merupakan usia yang matang saat mereka diutus. Setiap kali beliau bermimpi tentang sesuatu, maka mimpi itu pasti terjadi tepat seperti yang beliau impikan. Beliau  melihat cahaya dan mendengar suara. Beliau bersabda, “Sungguh, aku tahu sebuah bongkahan batu di Mekkah yang selalu mengucap salam kepadaku sebelum aku diutus”.

-bersambung....

No comments:

Post a Comment